• 22

    Jul

    Nazaruddin, Momentum Keruntuhan Demokrat

    Nazaruddin rupanya sangat piawai memainkan manuver politiknya. Politisi muda mantan bendahara umum partai demokrat ini mampu membuat jantung politik nusantara berdecak kencang. Politik bumi hangusnya membuat Sang dewan pembina menjadi murka. Nazaruddin tak hanya menahan laju mantan Bosnya Anas Urbaningrum menjadi putra mahkota untuk 2014. Tetapi juga diprediksi menurunkan elektabilitas partai penguasa di tahun yang sama. Politik balas budi yang dijalankan Anas dalam menyusun kepengurusan Demokrat rupanya membawa petaka yang menjerumuskan partai berlambang mercy ini ke titik paling nadir. Ada dua nama kontroversial yang telah sering disebut media saat itu bakal tersangkut masalah hukum Yakni Jhoni allen dan Nazaruddin. Anas malah bergeming dan justru menjadikan Jhoni Allen sebagai wakil ke
  • 6

    May

    Kawin Politik dan Politik kawin

    Tema yang saya angkat mungkin terlalu ceroboh walaupun sedikit menyerempet kondisi aktual perpolitikan nasional. Perkawinan politik mungkin didefinisikan sebagai proses pernikahan yang melibatkan elemen-elemen yang berkiprah dalam aktivitas politik. Ada keuntungan politik yang didapat dari proses tersebut. Itu pun menurut saya sah2 saja untuk sebuah kemaslahatan bersama. Jangankan perkawinan politik, perkawinan ekonomi pun lumrah saja. Proses perkawinan politik diawali dengan saling ketertarikan antara dua insan dalam gerbong politik yang berbeda. Bila disatukan menjadi sebuah kekuatan yang dasyat untuk mencapai sebuah tujuan yang paling utama. Istilah kedua politik kawin, mengabsorsi cara2 yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu.Bisa dilakukan dengan cara2 konvensional seperti st
  • 9

    Mar

    koalisi gak penting...!!!

    Sepekan ini energi kita banyak terkuras dengan isu reformat ulang koalisi. Para penganut faham “kekuasaan” (baca: dahaga) dengan mudah membantah hipotesis awal Saya dengan dalih koalisi mengawal stabilitas dan efektivitas fungsi2 pemerintahan. Perdebatan ini sangat elitis dan sulit dimengerti masyarakat kebanyakan. Yang masyarakat tahu cuma para politisi itu sedang berebut jatah kekuasaan atas nama jalannya roda pemerintahan. Para politisi seringkali hanya memikirkan berapa kursi menteri yang didapat, seberapa populer image mereka di depan publik dan berapa pundi2 yang bisa dikumpulkan parpol untuk 2014. Kekuasaan serta merta menjadi kekuatan menakutkan yang mematikan nurani. Sehingga tak peka lagi dengan penderitaan masyarakat. Diskursus mengenai pembagian kekuasaan ditenga
  • 4

    Feb

    Berguru dari negeri para fir'aun

    Gejolak politik yang melanda mesir akhir2 ini merupakan akumulasi dari kekecewaan rakyat terhadap otoriterisme Husni Mubarak selama 30 tahun. Negeri tempat menimba ilmu samawi dari berbagai belahan penjuru bumi seakan memperingati dunia akan ongkos sosial politik yang harus dibayar oleh rezim yang sudah bisu mendengarkan penderitaan rakyat. Rezim husni mubarak selama ini membelenggu kebebasan demokrasi rakyatnya, menumpuk pundi2 kemegahan dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Sampai suatu saat dimana rakyat sudah tak kuasa lagi menahan penderitaaan dan bergerak untuk melawan segala bentuk kezaliman penguasa. Sampai tulisan ini saya publikasikan Hosni Mubarak belum mau turun sampai September 2011 dimana ia memastikan tak akan maju lagi dalam pemilihan umum mendatang. Tapi rakyat
-

Author

Follow Me