Menggugat Kemanusiaan Kita
Manusia sejatinya menjadi makhluk yang paling berbudaya di muka bumi, tetapi pragmatisme tujuan hidup melokalisirnya menjadi predator pemangsa yang siap melahap sesamanya. Demi kepentingan hawa nafsu kita rela menohok, menjatuhkan, membunuh dan memperkosa hak2 orang lain. Kita jarang sekali berpikir berapa orang yang pernah kita sakiti, kita ambil haknya atau kita tipu secara licik dengan alasan bertahan hidup. Derajat kemanusian kita telah terdegradasi kedalam tabiat hewani universal yang mengerikan. Kita lebih banyak berfikir tentang berapa banyak pundi-pundi yang kita kumpulkan, berapa besar kekuasaan yang kita pegang, atau seberapa agung martabat kita di hadapan sesama.
Kita sering lupa bahwa di setiap kebahagiaan kita terdapat derita orang lain. Di setiap kekuasaan yang kita pegang terdapat orang lain yang tertindas. Di setiap kerakusan kita terdapat tangis dan darah orang lain, dan disetiap harta yang kita miliki terdapat hak-hak orang lain yang harus kita berikan.
Bagaimana kita rela menafkahi keluarga kita diatas tangis orang lain. Bagaimana pula kita bisa mengisi perut lapar kita dengan darah orang lain. Kenapa kita sanggup melepas dahaga kita diatas derita orang lain?
Tabiat biologis hewani telah merasuk dalam wujud berkepala manusia. mencederai nilai kemanusiaan kita yang mulia. Ketika kita merenung sejenak dari hukum rimba kehidupan yang tak beradab ini, akan timbullah kesadaran bahwa kita hanyalah bahagian kecil dari penciptaan alam semesta ini. Sehingga tak ada lagi yang harus kita sombongkan dan tak ada lagi jiwa-jiwa yang harus menderita karena perilaku kita.



